Begin my writing, terlalu
banyak cerita yang sudah membludak di benakku. Ketika malam itu, terlihat
seorang gadis yang tidak bisa dianggap lugu terlihat memasuki wilayah komp.
Balitan. Gadis berkerudung merah, aku menyebutnya begitu. Gadis yang terlihat
sangat tegar namun dibalik kepolosan senyum manis dibibirnya, mengandung sejuta
luka. Ternyata dia bersama gadis lain nya, gadis yang sengaja kusebut dirinya
setangkai mawar merah, ia memiliki pesona tersendiri bagi kaum adam yang
melihatnya, tapi satu hal yang aku tau dari gadis itu, dirinya memiliki duri
yang tajam, yang merupakan senjata baginya, namun juga bisa membahayakan
dirinya sendiri.
Dua cerita, dua gadis, dua derita, namun satu ketegaran
yang sama. Itu yang bisa ku lihat dari mereka.
Aku tak perduli ketika ada yang mencerca tulisan ini,
inilah hasil dari proses segala aktivitas otak kiri dan kananku. Dengan segala
air mata yang ku jatuhkan demi mendengarkan sebuah pelajaran indah suatu kehidupan.
Meski hanya dalam nuraniku saja.
Gadis berkerudung merah dan gadis mawar merah, dua individu
yang sangat berbeda dari fisik, bahkan karekteristik. Hanya ada satu kesamaan
yang benar-benar Nampak, kedua-dua nya adalah gadis yang selalu mencoba tegar,
tersenyum dalam tangis, tertawa dalam kehampaan, namun setia pada satu cinta
dan menjunjung tinggi ketulusan perasaan hati. Meski dengan kisah yang berbeda.
*****************
“Dengar laraku, suara hati ini
memanggil namamu, karena separuh aku DIRIMU”
Sepenggalahan bait lagu dari
nya band papan atas, Noah*. Seperti lirik lagu tersebut menggambarkan bagaimana
gadis mawar merah dan gadis berkerudung merah dengan cinta nya. Cinta yang telah
menjadikan kedua gadis cantik itu
menajamkan duri-durinya.
Cinta pertama takkan bisa
terlupakan, mungkin begitulah yang
dialami gadis mawar merah, cinta yang ia rasakan ketika mengenakan seragam
putih abu-abu kelas akhir; kenangan
banjarbaru.com. ketika seorang laki-laki yang dia sebut-sebut sebagai first
love itu adalah temand satu kelas, satu angkatan. Ntah bagaimana detil romansa
kisah kasih mereka hingga akhirnya harus terpisah jua, dan ironisnya gadis
mawar merah selalu dan selalu saja menyisakan persaan tulusnya kepada laki-laki
itu. Hingga setelah 3 tahun berlalu, gadis mawar merah tetap belum bisa
meenghapus jejak first love itu dari bathinnya. Selalu; dengan ketulusan hati
untuk nya.
Berbeda halnya dengan gadis
berkerudung merah darah disenja itu, setibanya ia di depan sebuah komp.
Perumahan di kawasan balitan, Banjarbaru. Terlihat seorang laki-laki dengan
jeans panjang dan t-shirt biru berdiri di depan rumah; menunggu sepertinya.
Dengan penuh harap. Tanpa kecemasan.
Gadis mawar merah tidak hanya
pasrah akan perasaan yang seakan-akan mentakdirkannya untuk terlalu dalam
ketika mencinta dan menyayangi seseorang, bukan hanya pada seorang kekasih,
kepada seorang teman pun begitu. She will do anything to make him/her happy.
Meski duri menembus kulitnya.
Setelah mengucapkan salam yang
santun; duduklah gadis berkerudung merah di ruang tamu persegi empat dengan
ukuran 4x4 m persegi yang di dominasi warna hijau, terlihat satu buah televisi
berwarna 21 inch lengkap dengan lemari dan sound systemnya. Sebuah dispenser
berdiri di pojok kanan ruangan.tak berselang setelah gadis itu bercengkrama
santai dan riang dengan sosok laki-laki yang memiliki tinggi badan 178 dengan
lesung pipit menghiasi pipinya, suasana terlihat berubah hening, tegang, dan
tak lagi santai.
Tak pernah tersungging senyum
duka menghiasi raut wajah gadis mawar merah, meski yang aku tau berbagai
permasalahan kerapkali menghinggapi dirinya, namun ia terlihat santai, easy
going, dan senyum. Hanya tubuhnya saja yg terlihat tak bersahabat, mungkin
karena beban hidup yang dia alami, wajah dan senyumnya bisa menutupi, namun
tidak bagi tubuhnya. Bekerja pagi siang malam, membagi waktu antara kuliah dan bekerja
, kesana – kemari hingga malam telah larut, itulah sisi ketegaran gadis ini,
semua itu tanpa laki-laki.
Laki-laki yang memandang lekat
jauh kedalam bola mata gadis berkerudung merah itu benar-benar telah
melumpuhkan tongkat-tongkat ketegaran yang ada di sanubarinya. Seperti luluh
lantak sebuah puncak jaya, hingga salju yang ada di sana ikut mengalir bersama
aliran dan desiran sukma hembusan iblis-iblis kesenangan. Gadis berkerudung
merah itu telah mencampakkan arti sebuah kerudung yang dikenakannya saat itu.
Ketika lembut belaian sang makhluk yang tak punya rahim itu membelai mesra dan
mengecup manis bibirnya. BlaRRrrrrrr !!!!!!!!! meski tak sejauh perjalanan
rantau – marabahan yang akan dilaksanakan anggota yonif 621, namun itu semua
adalah awal, gerbang menuju jalan tol; yang kemudian harus aku hentikan secara
paksa. Meski gadis berkerudung merah itu mencaci dan menjadi benci kepadaku.
Sangat murka. (to be continued)
Journey of my hometown part 5
Banjarbaru, 14 des 2012, Friday night.
























