Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy
birthday
Happy birthday to you
Seketika lagu tersebut mengalun berulang-ulang dari sosok Rida, Hera, dan dua orang laki-laki yang terlihat duduk bersama dalam satu meja di salah satu restaurant ternama di Banjarmasin. Lagu yang sengaja mereka lantunkan untuk seorang sahabat kecil bagi Rida dan Hera, tapi tidak bagi dua laki-laki yang bersama mereka. Lagu yang mengalun dengan sedikit false itu khusus untuk Rhey yang sedang berulang tahun tepat di hari itu.
Rhey; seorang wanita cantik berdarah keturunun arab, dengan alis dan bola mata yang indah, tinggi semampai, baik hati dan tidak sombong, namun terlihat sedikit kaku di hadapan kaum adam. Dan yang sangat menarik dari Bidan cantik ini adalah dia tidak pernah mau terlihat tanpa make-up dihadapan seorang laki-laki. Whatever laki-laki itu mau dokter, perawat, guru, petani, atau paman-paman tukang beca. Bagi Rhey make-up itu penting, sudah bukan menjadi rahasia lagi bagi teman-teman kalau dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk dandan ; dari memilih baju, celana, kerudung, sandal atau sepatu, make-up nya, pasang bulu mata anti badai dan tsunami di tambah lagi soft lens nya yang tersedia berbagai macam warna. The most important thing darinya Rhey adalah dia sangat menghargai yang namanya persahabatan. Buktinya dia masih ingat dan menjalin komunikasi yang baik dengan dua sahabat kecilnya ; Rida dan Hera.
Sore itu ketika matahari terlihat sangat bahagia, tersenyum menebarkan kehangatannya dimuka bumi layaknya anak kecil mendapatkan permen dari ibunya. Kehangatannya menyengat kulit epidermis manusia. Sehingga kulit terlihat lebih exotic. Sebuah motor Mio Soul bernomor polisi DA 374 NM Terlihat parkir tepat di depan kampus UNISKA Banjarmasin. Ternyata Rhey dan Hera lah yang mengendarai motor tersebut. Mereka terlihat menunggu seseorang dengan gelisah.
“ mana sih Rida belum muncul-muncul juga, blum ganti baju nich, kan malu masa ketemu abang aku begini sih” Rhey mulai cemas.
“Sabar lah buu, paling bentar lagi keluar koq, coba telpon lagi dech bilang kita nunggu d luar kampus gitu” Hera dengan gaya santainya merespon omongan Rhey.
“iya sudah di hubungi, tapi di Reject terus”
“ah masih ada dosen itu di kelasnya, santai aja dulu kita nunggunya”
“tapi ini sudah jam berapa, belum ganti baju, belum dandan belum berangkat belum ……”
Belum Rhey tuntas dengan segala kegelisahannya tiba-tiba dengan muka innocentnya Rida melambaikan tangan dari arah gerbang kampus.
“uhhhhhh, akhirnya” Hera menghela nafas lega
Rida menghampiri mereka dan tanpa basa-basi langsung bertanya “ayo kita pergi, kemana tujuan kita?”
“ke kost kamu, masa iya kita pergi jalan dengan penampilan begini?” kali ini Hera yang agkat bicara.
“emangnya kenapa kalau begini? Ada yang salah?” sekali lagi muka polosnya itu tampak lugu sekali.
“aduhhh Rida masa iya Hera pergi dengan seragam begitu, dikirain ntar kita menculik anak sekolah. Ahhh ga enak banget, aku kan musti dandan juga Rida temanku yang imut-imut, okkeh, let’s go” Rhey tampak mengomando.
“ kemana?” muka Rida bingung
“ya ke kost kamu, masa ke kandang sapi” Rhey mulai sedikit jengkel.
Tiba-tiba Rida tertawa terpinkal-pingkal dan berkata dengan santainya “gini lho teman-teman sebelumnya aku minta maaf yaa, di Banjarmasin ini aku tidak punya kost, aku kuliahnya pulang pergi banjamasin-banjarbaru gitu, sekali lagi maaf yaa”.
Gubrakkk!!!!
Mereka bingung mau mengganti kostum dimana, akhirnya Hera menemuka ide cemerlang, mereka menumpang sholat magrib sekaligus mengganti pakaian di kost salah satu teman kuliah Hera ; Yanti.
Ting Nong – Ting Nong
Bel sebuah kost puteri lantai dua yang di dominasi warna orange itu memanggil-manggil penghuni yang hidup didalamnya. Seorang perempuan cantik berambut panjang, hitam, dan lurus membukakan pintu.
“cari Yanti ya Her?”
“iya Sa, Yantinya ada ga’ ya?”
“ada di kamarnya, naik aza keatas langsung, o ya kunci pintunya ya, takut ada pencuri masuk” Nisa mewanti-wanti sambil kembali masuk ke kamarnya di urutan pertama dekat pintu.
“yu masuk Rhey, Rida, sudah mau magrib g’enak kalau berdiri diluar” Hera mengajak teman-temanya masuk.
Di lantai atas kost yang bernama “junjung Buih” ini sudah menunggu, Yanti; gadis keturunan dayak asli, putih, ramah, baik hati walau terkadang terlihat sedikit jutek dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi makhluk itu berjenis kelamin laki-laki. Untungnya tamu yang datang dengan dalih ingin ikut sholat magrib dang anti pakaian ini semua prempuan. Jadi yanti terlihat santai menghadapinya.
Selesai sholat magrib, Rhey mulai sibuk dengan pernak-pernik seputar dandanannya. Rida terlihat santai berbincang-bincang dengan Yanti yang juga pernah satu kelas dengannya ketika SMA. Hera terlihat tidak begitu bahagia, ntah apa yang sedang ada dalam benak bocah itu.
“ ya ampun mandi, sholat, ngerumpi dengan Yadi di depan kost juga sudah selesai, eh yang di sini belum pada selesai to” Hera nyeletuk sendiri ketika kembali ke kamar yanti yang dia dapati Rhey masih belum selesai dengan make-upnya.
“sabar bu, maklum”. Rida menimpali
“iya sabar trus Rid, O ya Yanti maaf ya teman kami yang satu ini memang sedikit berbeda”. Sekali lagi Hera komentar. Kali ini terkesan bercanda karena disertai senyum manis yang tersungging di bibirnya.
Akhirnya tiba juga di tempat yang sudah di rencanakan. Tempat terbuka, santai, nyaman dan terlihat asri, gajebo pertama berdekatan dengan mushala. Harapannya agar para pengunjung restaurant ini menikmati makanan dengan rasa nyaman.
Segelas cappuccino dan 2 gelas besar es teller terlihat menghiasi meja yang mereka booking.
“Ngapain sieh Rhey clingak-clinguk begitu” Rida protes
“si abang koq belum datang-datang juga ya, tadi sih bilangnya sudah berangkat” Rhey menjawab.
“owh abang nya bawa kue ultah kan” Hera menimpali dengan tertawa nyengir.
“iya bawa, tenang ajha”.
“asyik, makan – makan” kali ini Rida yang terlihat happy.
Dua buah motor Satria F terlihat parkir di depan restaurant tempat Rhey, Hera dan Rida makan. Setelah memposisikan kendaraan roda 2 itu dengan rapi kedua pengendara tersebut bergegas menuju gajebo yang bernomor meja 1. Salah satu di antara mereka membawa kotak di tangannya, yang ternyata adalah kue ulang tahun yang akan di berikan kepada Rhey. Dan laki-laki itu adalah abangnya Rhey dan temannya.
“Happy birthday to you”. Abang Rhey mulai membuka suara dengan bait lagunya
“Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy birthday, happy birthday,Happy birthday to you.” Serempak Hera, Rida, dan temannya Abang mengikuti alunan lagu tersebut hingga Rhey meniup lilin yang berbentuk angka 22, setelah make a wish tentunya.
“thanks banget ya bang buat semuanya, ga’ nyangka abang beneran datang”. Rhey terharu.
“iya, sama-sama De’. Kan abang kangen juga sama ade, sudah hampir dua tahun ya kalau tidak salah setelah pertemuan kita yang terakhir di banjarbaru”.
“abang sekarang di mana?”
“ini lagi tugas jaga di prusahaan, sekitar 2 minggu, setelah itu kembali ke battalion koq, ade tugasnya dimana?”.
“aq di pedalaman bang tugasnya, jadi jarang-jarang bisa jalan ke Banjarmasin begini”.
“owh sabar de’, namanya juga tugas”.
Selang mengalir pembicaraan Rhey dengan Abangnya, Rida, Hera dan teman abang hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Rida sibuk dengan BBM nya, begitu pula temannya abang, tenggelam bersama BB nya, berbeda dengan yang lainnya, Hera malah asyik memilah-milah playlist yang ada di layar monitor, ternyata di gajebo tersebut terdapat equipments lengkap untuk karaoke. Dan akhirnya mengalun juga lagu pertama; Rindu, Agnes monica.
“ sip, kita bisa nyanyi bareng ternyata di sini.” Abang yang sedari tadi tenggelam dalam pembicaraan melepas rindu dengan Rhey seakan terhempas ke daratan berbatu, mungkin karena mendengar nyanyian Hera yang suaranya apabila disandingkan dengan suara kumbang, orang-orang pasti sangat sulit membedakannya.
“iya silakan, itu microphone nya kan ada dua”. Sahut Hera dengan santainya.
“ sini, biar saya yang nyanyi, lagunya ganti donk mbak.” Kali ini temannya abang yang angkat bicara.
“owh bisa bicara juga ternyata, kenapa dari tadi diam saja”. Hera terlihat judes.
Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, kecuali dia terlihat asyik kembali dengan BBnya.
“ah sudah dech, kalian ini lupa ya tujuan kita kesini makan, ayo pesan apa?” Rida angkat bicara.
“iya – iya sobat, ayo pesan apa, abang , temennya juga pesan apa, Her panggil waiter nya donk!” Rhey mengomando.
Makanan siap di santap telah tersaji di atas meja. Mereka terlihat makan dengan santai menikmati dengan sedikit perbincangan.
“o ya Rhey, temannya abang mu ini siapa sih namanya”. Hera mulai nyeletuk.
“Tanya sendiri donk dengan orangnya”. Rhey menyahut dengan santainya.
“Kenalkan, nama saya ….”. teman abang angkat bicara dengan tangan yang mengulur untuk sebuah perkenalan yang sopan kepada Hera, tetapi, belum selesai dia berbicara, dia urungkan niatnya menyambung pembicaraan itu.
“lho kok berhenti ngomongnya”. Hera menyahut sinis.
“mbak nya ga’ mendengarkan saya juga.” laki-laki itu berkata sembari menarik tangannya kembali dan tersenyum simpul.
Seketika Hera terdiam sejenak memandang laki-laki yang tersenyum simpul kepadanya. Senyum yang membuatnya seakan-akan kembali kemasa tujuh tahun yang silam. Senyum yang pernah menghiasi hari-hari Hera siang dan malam, yang kemudian berakhir menjadi Senyum luka yang menorehkan kepedihan yang mendalam.
Sore itu ketika matahari terlihat sangat bahagia, tersenyum menebarkan kehangatannya dimuka bumi layaknya anak kecil mendapatkan permen dari ibunya. Kehangatannya menyengat kulit epidermis manusia. Sehingga kulit terlihat lebih exotic. Sebuah motor Mio Soul bernomor polisi DA 374 NM Terlihat parkir tepat di depan kampus UNISKA Banjarmasin. Ternyata Rhey dan Hera lah yang mengendarai motor tersebut. Mereka terlihat menunggu seseorang dengan gelisah.
“ mana sih Rida belum muncul-muncul juga, blum ganti baju nich, kan malu masa ketemu abang aku begini sih” Rhey mulai cemas.
“Sabar lah buu, paling bentar lagi keluar koq, coba telpon lagi dech bilang kita nunggu d luar kampus gitu” Hera dengan gaya santainya merespon omongan Rhey.
“iya sudah di hubungi, tapi di Reject terus”
“ah masih ada dosen itu di kelasnya, santai aja dulu kita nunggunya”
“tapi ini sudah jam berapa, belum ganti baju, belum dandan belum berangkat belum ……”
Belum Rhey tuntas dengan segala kegelisahannya tiba-tiba dengan muka innocentnya Rida melambaikan tangan dari arah gerbang kampus.
“uhhhhhh, akhirnya” Hera menghela nafas lega
Rida menghampiri mereka dan tanpa basa-basi langsung bertanya “ayo kita pergi, kemana tujuan kita?”
“ke kost kamu, masa iya kita pergi jalan dengan penampilan begini?” kali ini Hera yang agkat bicara.
“emangnya kenapa kalau begini? Ada yang salah?” sekali lagi muka polosnya itu tampak lugu sekali.
“aduhhh Rida masa iya Hera pergi dengan seragam begitu, dikirain ntar kita menculik anak sekolah. Ahhh ga enak banget, aku kan musti dandan juga Rida temanku yang imut-imut, okkeh, let’s go” Rhey tampak mengomando.
“ kemana?” muka Rida bingung
“ya ke kost kamu, masa ke kandang sapi” Rhey mulai sedikit jengkel.
Tiba-tiba Rida tertawa terpinkal-pingkal dan berkata dengan santainya “gini lho teman-teman sebelumnya aku minta maaf yaa, di Banjarmasin ini aku tidak punya kost, aku kuliahnya pulang pergi banjamasin-banjarbaru gitu, sekali lagi maaf yaa”.
Gubrakkk!!!!
Mereka bingung mau mengganti kostum dimana, akhirnya Hera menemuka ide cemerlang, mereka menumpang sholat magrib sekaligus mengganti pakaian di kost salah satu teman kuliah Hera ; Yanti.
Ting Nong – Ting Nong
Bel sebuah kost puteri lantai dua yang di dominasi warna orange itu memanggil-manggil penghuni yang hidup didalamnya. Seorang perempuan cantik berambut panjang, hitam, dan lurus membukakan pintu.
“cari Yanti ya Her?”
“iya Sa, Yantinya ada ga’ ya?”
“ada di kamarnya, naik aza keatas langsung, o ya kunci pintunya ya, takut ada pencuri masuk” Nisa mewanti-wanti sambil kembali masuk ke kamarnya di urutan pertama dekat pintu.
“yu masuk Rhey, Rida, sudah mau magrib g’enak kalau berdiri diluar” Hera mengajak teman-temanya masuk.
Di lantai atas kost yang bernama “junjung Buih” ini sudah menunggu, Yanti; gadis keturunan dayak asli, putih, ramah, baik hati walau terkadang terlihat sedikit jutek dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi makhluk itu berjenis kelamin laki-laki. Untungnya tamu yang datang dengan dalih ingin ikut sholat magrib dang anti pakaian ini semua prempuan. Jadi yanti terlihat santai menghadapinya.
Selesai sholat magrib, Rhey mulai sibuk dengan pernak-pernik seputar dandanannya. Rida terlihat santai berbincang-bincang dengan Yanti yang juga pernah satu kelas dengannya ketika SMA. Hera terlihat tidak begitu bahagia, ntah apa yang sedang ada dalam benak bocah itu.
“ ya ampun mandi, sholat, ngerumpi dengan Yadi di depan kost juga sudah selesai, eh yang di sini belum pada selesai to” Hera nyeletuk sendiri ketika kembali ke kamar yanti yang dia dapati Rhey masih belum selesai dengan make-upnya.
“sabar bu, maklum”. Rida menimpali
“iya sabar trus Rid, O ya Yanti maaf ya teman kami yang satu ini memang sedikit berbeda”. Sekali lagi Hera komentar. Kali ini terkesan bercanda karena disertai senyum manis yang tersungging di bibirnya.
Akhirnya tiba juga di tempat yang sudah di rencanakan. Tempat terbuka, santai, nyaman dan terlihat asri, gajebo pertama berdekatan dengan mushala. Harapannya agar para pengunjung restaurant ini menikmati makanan dengan rasa nyaman.
Segelas cappuccino dan 2 gelas besar es teller terlihat menghiasi meja yang mereka booking.
“Ngapain sieh Rhey clingak-clinguk begitu” Rida protes
“si abang koq belum datang-datang juga ya, tadi sih bilangnya sudah berangkat” Rhey menjawab.
“owh abang nya bawa kue ultah kan” Hera menimpali dengan tertawa nyengir.
“iya bawa, tenang ajha”.
“asyik, makan – makan” kali ini Rida yang terlihat happy.
Dua buah motor Satria F terlihat parkir di depan restaurant tempat Rhey, Hera dan Rida makan. Setelah memposisikan kendaraan roda 2 itu dengan rapi kedua pengendara tersebut bergegas menuju gajebo yang bernomor meja 1. Salah satu di antara mereka membawa kotak di tangannya, yang ternyata adalah kue ulang tahun yang akan di berikan kepada Rhey. Dan laki-laki itu adalah abangnya Rhey dan temannya.
“Happy birthday to you”. Abang Rhey mulai membuka suara dengan bait lagunya
“Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy birthday, happy birthday,Happy birthday to you.” Serempak Hera, Rida, dan temannya Abang mengikuti alunan lagu tersebut hingga Rhey meniup lilin yang berbentuk angka 22, setelah make a wish tentunya.
“thanks banget ya bang buat semuanya, ga’ nyangka abang beneran datang”. Rhey terharu.
“iya, sama-sama De’. Kan abang kangen juga sama ade, sudah hampir dua tahun ya kalau tidak salah setelah pertemuan kita yang terakhir di banjarbaru”.
“abang sekarang di mana?”
“ini lagi tugas jaga di prusahaan, sekitar 2 minggu, setelah itu kembali ke battalion koq, ade tugasnya dimana?”.
“aq di pedalaman bang tugasnya, jadi jarang-jarang bisa jalan ke Banjarmasin begini”.
“owh sabar de’, namanya juga tugas”.
Selang mengalir pembicaraan Rhey dengan Abangnya, Rida, Hera dan teman abang hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Rida sibuk dengan BBM nya, begitu pula temannya abang, tenggelam bersama BB nya, berbeda dengan yang lainnya, Hera malah asyik memilah-milah playlist yang ada di layar monitor, ternyata di gajebo tersebut terdapat equipments lengkap untuk karaoke. Dan akhirnya mengalun juga lagu pertama; Rindu, Agnes monica.
“ sip, kita bisa nyanyi bareng ternyata di sini.” Abang yang sedari tadi tenggelam dalam pembicaraan melepas rindu dengan Rhey seakan terhempas ke daratan berbatu, mungkin karena mendengar nyanyian Hera yang suaranya apabila disandingkan dengan suara kumbang, orang-orang pasti sangat sulit membedakannya.
“iya silakan, itu microphone nya kan ada dua”. Sahut Hera dengan santainya.
“ sini, biar saya yang nyanyi, lagunya ganti donk mbak.” Kali ini temannya abang yang angkat bicara.
“owh bisa bicara juga ternyata, kenapa dari tadi diam saja”. Hera terlihat judes.
Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, kecuali dia terlihat asyik kembali dengan BBnya.
“ah sudah dech, kalian ini lupa ya tujuan kita kesini makan, ayo pesan apa?” Rida angkat bicara.
“iya – iya sobat, ayo pesan apa, abang , temennya juga pesan apa, Her panggil waiter nya donk!” Rhey mengomando.
Makanan siap di santap telah tersaji di atas meja. Mereka terlihat makan dengan santai menikmati dengan sedikit perbincangan.
“o ya Rhey, temannya abang mu ini siapa sih namanya”. Hera mulai nyeletuk.
“Tanya sendiri donk dengan orangnya”. Rhey menyahut dengan santainya.
“Kenalkan, nama saya ….”. teman abang angkat bicara dengan tangan yang mengulur untuk sebuah perkenalan yang sopan kepada Hera, tetapi, belum selesai dia berbicara, dia urungkan niatnya menyambung pembicaraan itu.
“lho kok berhenti ngomongnya”. Hera menyahut sinis.
“mbak nya ga’ mendengarkan saya juga.” laki-laki itu berkata sembari menarik tangannya kembali dan tersenyum simpul.
Seketika Hera terdiam sejenak memandang laki-laki yang tersenyum simpul kepadanya. Senyum yang membuatnya seakan-akan kembali kemasa tujuh tahun yang silam. Senyum yang pernah menghiasi hari-hari Hera siang dan malam, yang kemudian berakhir menjadi Senyum luka yang menorehkan kepedihan yang mendalam.
senyum yang tak kan pernah terlupakan, senyum yang tiba-tiba kembali menghantui pikian Hera , SENYUM ITU...

0 komentar:
Posting Komentar