mata tidak terlalu sipit ; tidak pula besar, bibir tipis, rambut lurus, wajah oval, hidung mancung,
senyum yang tulus, tidak ada yang terlalu istimewa ku rasa.
Laki-laki biasa yang sangat menyukai basket, karena basket rasanya tidak bisa di pisahkan dari hidupku jadi lah kemana pun keluarga dan aku pergi bola basket tidak pernah ku tinggalkan, dimana memainkan nya? Dimana sajalah, di depan rumah orang yang bisa di kondisikan untuk main juga oke.
Selain basket, gitar dan rubik juga menjadi kegemaranku, bukan professional, hanya sekedar bisa memainkan sambil bernyanyi dengan santai. Aku bisa menyempurnakan rubik dengan kilat dan tutup mata. Hidupku penuh dengan kebahagiaan dan prestasi, dari juara pidato hingga debat Bahasa Inggris tingkat Nasional, urusan prestasi di bangku sekolah sudah tidak di ragukan lagi, aku bangga bisa membuat orang-orang di sekelilingku bangga.
Nama ku Rian, dan ini bukan cerita biografiku, juga bukan cerita cintaku, tapi tentang hatiku.
Kala itu aku duduk di bangku kelas 1 SMP ketika di adakan sebuah acara ulang tahun sekolah, kedua orang tuaku datang, dan tiba-tiba saja di dekat orang berjualan es dawet ibu memanggil seorang gadis.
“hey luna , sini ?” panggil ibu ku
Si gadispun menghampiri dengan sedikit canggung
“ Rian, ini Luna yang dulu sewaktu SD kamu bertanya-tanyakan siapa yang menyumbangkan begitu banyak piala di SDmu, ini ka Luna sekarang kelas 3 ya?
“iya bu, hay Rian, senang berkenalan, aku juga dengar semua prestasimu dari mama, katanya setiap ulangan kenaikan kelas nilai nya tidak pernah tidak 100 ya, oh ya satu lagi, menyelesaikan nya juga sangat cepat, setelah semua soal di bagikan ke seluruh murid kamu juga selesai mengerjakan nya, wah hebat sekali ya” gadis itu terlihat sangat berapi-api ketika berbicara.
Percakapan seputar perkenalan itu pun berakhir dengan kesan mengagumkan bagiku, seorang anak laki-laki yang baru duduk di kelas 1 SMP dan dia kelas 3 SMP.
Hari-hari berlalu dengan buku, hafalan, masjid, dan kegiatan belajarku, aku bersekolah di SMP yang berbasic pondok pesantren, namun karena rumahku tidak begitu jauh dari lokasi sekolah maka aku tidak ikut “mondok” hanya ikut bersekolah di sana.
Hampir tiga tahun aku tidak pernah bertemu lagi dengan Luna, hingga hari itu ketika libur ramadhan yang aku habiskan di rumah nenek. Aku bertemu lagi dengan nya, dia menjadi ketua panitia pelaksana acara Pesantren ramadhan yang di selenggarakan oleh karang taruna. Dan aku ikut memeriahkan acara tersebut. Terlalu banyak alasan mengapa aku suka dengan nya, mungkin karena pembawaan nya yang ramah dan sangat mudah bergaul dengan setiap orang, dan satu lagi, dia terlihat sangat smart di mataku. Itu yang paling menarik bagiku, bukan karena dia cantik. Bukan.
Aku mulai berani berinteraksi dengan nya, dia sangat menarik karena apapun yang aku bicarakan dia sangat faham dan “nyambung”. Foto ku dengan nya pertama dan terakhir di ambil dari camera Hp Temanku Tiefa, Merk nokia 6600 dan aku tidak pernah tahu kalau foto itu di cetak Luna dan di simpannya dengan rapi hingga foto itu di sita Ibu asrama nya 2 tahun kemudian.
Hari – hari berlalu dengan kegiatan yang mengasyikkan dan bermanfaat tentunya, aku mulai merasa nyaman dengan Luna, dia yang mengganggapku seperti adik kandungnya membuat ku berinisiatif untuk membuat persaudaraan ini menjadi nyata.
Sore itu ibu dan aku bertandang ke rumah Luna, dan ibu menyampaikan maksud kedatangan kami bahwa katanya kalau kami sudah di anggap seperti keluarga , dan ibu ingin mengadakan “selamatan” untuk memperingati hari jadi bahwa kami bersaudara. Dia ; Ka Luna, sejak itu aku memanggilnya Kaka.
Saat itu Ka Luna sedang galau tingkat dewa, dia sering terlihat menangis dan murung, semua itu karena kisah cintanya yang terlihat tak semudah ketika dia berpidatao 3 bahasa di depan kami, dia sangat menyukai seorang laki-laki yang aku tidak mau tau urusan cintanya itu, yang aku tau hanya ingin menghibur kaka ku saja, aku tidak suka melihat ada air mata yang keluar dari mata sayunya itu, aku hanya ingin melihat senyum simpul yang mempesonakan tersungging dari bibirnya, hanya itu.
Melakukan rutinitas sekolah dan kegiatan-kegiatan ku lalui dengan hati senang, karena sejak itu ka Luna sering menelpon ku dari wartel yang ada di asaramanya, dalam satu minggu 2 hingga 3 kali, kami saling berbagi cerita dan kegiatan sehari-hari, bagiku dia sangat baik, juga sangat menarik, semuanya, semua tentang Dia.
Hari ini 3 tahun setelah pertemuan kami dulu, dulu sekali, di tempat yang sama dan acara yang sama; Ulang Tahun sekolah. Kali ini aku lihat ka Luna tampil madihin dengan group BBB nya dari puteri, sekali lagi aku terkagum-kagum oleh penampilannya. Setelah dia selesai tampil aku lihat dia berjalan kearah kursi penonton, ketika ku lihat di sana ada ibuku yang memanggilnya. Aku tahu ibu juga suka dengan nya, karena dia anak yang baik, dan ibu juga sudah menganggapnya seperti anak sendiri, mungkin karena aku tidak mempunyai saudara perempuan. Mereka beranjak dari tempat duduk dan terlihat berjalan menghampiri ku. Rupanya mereka sengaja ikut rombongan peresmian sekolahku yang hari ini juga di resmikan menjadi MBI “ Madrasah Bertarap Internasional”.
Hampir semua anak di sekolahku kenal ka Luna, dia yang pintar, dia yang sering ikut lomba , dari pramuka, puisi, debat hingga pidato dan sebagainya. Dan dia yang terkenal sebagai Kaka ku, dan aku mulai terkenal karena aku adik dari seorang LUNA.
Suatu hari aku punya kesempatan untuk datang ke Sekolah nya, kala itu aku sudah duduk dibangku kelas X dan terpilih menjadi bagian dari team debat. Aku pun menemui ka Luna dengan takut-takut, takut kalau ka Luna akan di beri hukuman karena menemui ku, tapi syukurnya semua orang sudah tahu kalau aku adalah adik ka Luna.
Menemui ka luna dengan sepucuk surat untuk nya itu tidak lah mudah, surat …, ya surat, tapi bukan dariku, tapi darii seorang teman sekelas ku yang juga fans berat ka Luna, nama nya Hadi; dia selalu baik terhadapku akhir-akhir ini, ternyata dia punya maksud tersendiri, diam-diam dia memanggilku dan mengatakan ada yang ingin di bicarakan , penting. Aku meng iya kan saja dan terjadilah percakapan itu.
“Rian, Luna itu kan kakak mu, dan aku juga punya adik cewe, jadi bagaimana kalau kita barter, kamu uruskan aku dengan kakak mu, dan aku akan uruskan hubungan kamu dengan adik ku, bagaimana? “
Dengan bingung ku ambil saja sepucuk surat yang dia tujukan untuk ka Luna tersebut, namun aku tidak menyetujui tawarannya.
Jujur saja aku tidak suka, dan tidak akan suka kalau ka Luna dengan nya, tidak.
Setelah dia menerima surat nya aku pun kembali ke ruang debat, setelah akhirnya ka Luna mendatangi tempat kami latihan dan memanggilku kembali dengan raut muka aneh. Aku yakin dia sudah membaca surat dari hadi tersebut dan benar saja dia langsung mengatakan, “ dik, tolong kembalikan foto ini, bilang pada yang punya saya tidak mau memeliharanya fotonya, faham”. “iya jawabku dengan mangguk-mangguk. Ternyata ada foto yang Hadi lampirkan dalam suratnya, Nampak jelas ka Luna tidak suka dengan Hadi dan isi suratnya.
Sejak kedatangan ku ke asrama puteri aku semakin di kenal, sebagai debater ganteng adik ka Luna, begitu ceritanya padaku di telpon, bahkan banyak yang mendatangi ka Luna dari hanya sekedar menanyakan itu benar adik ka Luna? Hingga yang blak-blakan mengatakan “ mau donk ukhty jadi adik ipar ente, tolong donk ukhty kenalkan kami dengan adik nya dll. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa, karena di duniaku hanya ada aku dan ka Luna, tidak ada tempat untuk orang lain.
Sekarang aku sudah kelas XI, dan ka Luna sudah melewati kelulusan SMA nya, dia terlihat sibuk belajar untuk mempersiapkan masuk Universitas, aku kembali menghabiskan liburan ku di rumah nenek, bukan tanpa alasan , aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama ka Luna, jadi lah setiap hari kalau aku taka da di rumah nenek, ibu langsung mencariku di rumah ka Luna, dan sudah pasti aku di sana. Bahkan ketika baru saja sampai di rumah nenek aku langsung menuju rumah ka Luna, karena itu memang tujuan ku sebenarnya. Aku bantu ka Luna memecahkan soal-soal yang di rasa sulit, dan aku senang dia memintaku, dia menganggapku hebat, dan kami saling menghebatkan satu sama lain.
Hingga akhirnya dia mengatakan kalau dia di terima di salah satu Universitas negeri yang ada dibanjarmasin. Dia terlihat senang dan aku pun ikut senang.
Masa liburan ku hampir selesai, ketika malam itu sebuah sms masuk di handphone ku, isinya membuat ku hamper tidak bisa tidur, bingung, bahkan sedikit ragu, sms itu menyatakan kalau sebenarnya ka Luna suka denganku, aku kurang percaya bahkan terkesan tidak percaya.
Besok nya aku menghampiri ka Luna di rumahnya dan langsung menanyakan tentang is isms tadi malam, setelah dialog yang lumayan lama kesimpulan nya aku dan ka Luna resmi berpacaran, begitu kalau menurut zaman itu.
Entah mengapa setiap kali aku bertemu Luna, sejak itu aku meninggalkan kata kaka, hanya Luna; kedua tangan ku menjadi dingin serasa membeku seperti es, dan jantungku selalu berdebar sangat tidak beraturan, selalu begitu, mungkin inilah yang di namakan “love at first sight”. Aku rasa aku mencintai Luna dengan sangat, cinta seorang anak SMA.
Dan hari ini adalah terakhir liburan ku sebelum balik masuk sekolah, aku sangat sedih karena harus berpisah dengan Luna, dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi, semua terasa menyesakkan dada, ketika aku pamit pulang ke kotaku dan ku genggam erat jemarinya, aku tak mau melepaskan nya, hingga ibu membujukku untuk segera pulang dan mengatakan kalau nanti kami akan bertemu lagi, aku dan Luna.
Aku terdiam dan sedikit airmataku menetes mengiringi perjalan kembali kekotaku.
Aku berubah sejak itu, menjadi murung dan sedih, tidak seceria biasanya, hingga saudaraku menegurku dengan sedikit nada marah.
“kenapa harus alay begitu sedihnya, sudahlah , toh nanti juga bakalan liburan lagi kesana” katanya
“ kamu itu tidak mengerti, kalau sekeping hatiku tertinggal di sana, kamu itu tidak tahu kan rasanya berpisah dengan orang yang kita cinta, kamu tidak tahu” dengan emosi berapi-api ku jawab.
Dia terlihat terdiam, menunduk, dan raut wajahnya mulai berubah, hingga dia kembali meneruskan kata-katanya yang membuat aku tertegun.
“ ya aku tidak tahu rasanya berpisah dengan orang yang aku cinta, aku tidak tahu kesedihanmu, tapi yang aku tahu aku jauh lebih sedih dari yang kau rasakan, bagaimana tidak, tidakkah kau berfikir siapa yang pertama kali dekat dengan Luna, itu aku. Siapa yang selalu menolongnya ini dan itu, itu aku. Siapa yang mengantarkannya pulang ke asrama ketika acara ulang tahun sekolah, itu aku, siapa yang selalu membuat nya tertawa , itu aku, semuanya aku. Bukan kamu, tapi mengapa dia memilih kamu untuk menjadi pacarnya? Bukan aku. Dan aku harus tetap setia menemani kalian pacaran kemanapun dan dimana pun, apa kamu mengerti bagaimana perasaan ku ?”
Sontak aku mematung dan mulai menerawang , ya ternyata memang benar dia , semua dia, tapi aku juga tidak mau mengalah dengan perasaan ku, kali ini dia harus mengalah untuk saudara kembarnya, aku .
Nama ku Rian, dan dia juga Rian, kami kembar identic dan sejak awal kita bersaudara dan menjalin hubungan baik bertiga dengan Luna, kecuali hingga saat Luna memilih ku untuk menjadi pacarnya, bukan dia.
Pacaran versi kami itu berkomunikasi lewat telpon dengan jadwal tetap setiap subuh, waktu itu aku belum di belikan hp oleh orang tuaku, dan jadilah hp bapak yang menjadi korban karena pulsa beliau selalu habis aku gunakan untuk menelpon Luna, pun ketika aku berada di rumah yang satu, di sana ada telpon rumah dan aku juga menggunakan nya untuk hanya sekedar say hello to Luna, atau menyanyikan lagu dengan petikan gitarku untuknya, hingga suatu hari ibu menanyakan kepada ku siapa yang memakai telpon rumah hingga tagihan telpon membengkak, padahal orang rumah sudah tidak memakai telpon itu lagi, ya aku mengakuinya, aku yang memakainya hingga aku di belikan hp oleh orang tuaku, tepatnya kami, kami harus di gunakan bersama dengan saudara kembarku. Namun terkadang dia terlihat benar-benar sinis skepadaku, karena sms dan telpon Luna untuk ku, bukan dia. Pun begitu dia tetap saudara terbik yang aku punya, karena kemana pun dan di mana pun aku bertemu Luna dia selalu menemani kami.
2 tahun perjalanan kisah cinta kami, setiap ada waktu Luna selalu pergi ke kotaku, dia kerumah, atau hanya sekedar menemaniku bermain basket. Bukan tanpa rintangan perjalan cinta LDR antar kota ini serasa begitu indah bagiku, Luna , semangat ku meraih prestasi hingga suatu ketika team debat ku mengikuti Lomba yang di adakan oleh kampus Luna, betapa bahagianya aku, karena aku akan bertemu dengan nya, yang ketika itu menjadi panitia acara tersebut.
Aku, selalu semangat dan berapi-api ketika menyampaikan argumentku. Karena apa, ku lihat luna memperhatikan ku dengan senyum manis di depan pintu. Dia yang selalu menjadi semangat prestasi ku, ketika break aku menemuinya dan kita duduk santai di tangga, bercanda dan saling melepas rindu, hingga ada seorang peserta yang perasal dari sekolahku memanggilnya, dari team puteri.
“ka Luna , sini sebentar”
“iya, saya” katanya seraya berjalan berlalu bangkit dari tempat duduknya
Ku lihat perempuan itu memberikan sebuah kertas kepada Luna dan menunjuk kepadaku dengan tersenyum malu, setelah Luna menerima kertas tersebut dia pun berlalu dan kembali kepadaku. Dia menyerahkan kertas yang adalah sepucuk surat untuk ku.
“ ini surat cinta dari adik kelas, katanya dia suka dengan adik kesayangan kaka ini” katnya sambil nyengir kepadaku.
Tidak banyak yang tahu kalau kami pacaran, karena mereka mengira aku adalah adik ka Luna, yaa itu dulu bukan lagi sekarang, kami membaca surat itu bersama dan tertawa, ku robek surat itu dank u minta Luna membuangnya, ku yakinkan kepadanya kalau cintaku hanya Luna, sepanjang hidupku. Hanya Luna.
Terlalu banyak kenangan pahit dan manis yang kami lalui, bukan tanpa perjuangan, bukan tanpa pengorbanan. Luna mengajarkan aku banyak hal dalam hidup, yang tak kan pernah bisa kulupakan.
Nenek ku sakit, dan harus dirawat di salah satu Rumah sakit swasta yang ada di Banjarmasin, tempat Luna kuliah, aku membuat janji untuk bertemu dengan nya sore itu di Rumah sakit, bukan tempat yang romantic, tapi aku sangat bahagia bisa bertemu luna dan melihat dia berkumpul bersama keluargaku yang lain di ruangan dimana nenek dirawat.
Sebenarnya ada hal penting yang harus aku katakan kepada nya, tapi aku tidak yakin apa yang aku katakan ini adalah kabar gembira, namun harus aku katakan, jadilah ketika menuju tempat parkir kami berjalan sambil berbicara ringan, ku buka obrolan ku dengan nada candaan, “ yank aku daftar beasiswa kuliah ke jawa, nanti kalau aku lulus gimana hubungan kita?” ku tanyakan dengan sangat ringan.
“kita putus, aku g’ bisa LDR antar pulau” simple dia menjawab begitu seakan tanpa berfikir apa yang sudah di ucapkannya.
Aku tertegun sejenak sebelum akhirnya dia menarik tanganku dan kembali berjalan dengan candaan yang ringan.
Hari-hari setelah itu hubungan kami terasa mulai berbeda, ada yang hilang, entah apa, aku bingung dan aku tidak mengerti harus bagaimana, di satu sisi aku sangat menginginkan beasiswa tersebut, namun disisi lain aku tidak mau kalau harus kehilangan Luna, hubungan ini semakin hambar hingga akhirnya aku menerima pengumuman bahwa aku di nyatakan Lulus beasiswa di salah satu PT swasta yang ada di Jogya. Lalu harus bagaimana aku memberitahu Luna akan hal ini, apakah ini akan menjadi berita gembira atau duka baginya juga bagiku.
Kamis , pukul 3 siang aku tiba di rumah Nenek dan kebetulan Luna sedang berada dirumah orang tuanya, aku tidak berani kerumahnya untuk mengatakan ini, aku takut aku tak sanggup, jadi aku meminta dia yang menemuiku di rumah Nenek.
Tak berselang Lama Luna tiba dengan wajah yang tidak bahagia, pikirku dia sudah tahu apa yang akan ku sampaikan, dan benar saja belum sempat aku mengatakan apapun ketika kami duduk di ruang tamu dia hanya mengangguk, dengan linangan airmata, dia sudah tahu kalau aku lulus beasiswa tersebut. Ku genggam erat tangannya, dengan tangan dingin ku dan gemetar, aku tidak mau melepaskan genggaman itu. Sungguh tidak mau. Dia tersenyum dan mengatakan kalau kami masih bisa saling berkomunikasi, meski tanpa embel-embel pacaran. Aku harus berjuang, semangat, dan memikirkan masa depan cerah yang menantiku di depan sana, aku harus berangkat dengan senyum tegar tanpa boleh memandang masa lalu, dan belajar melupakan Luna, dan semua kenangan bersamanya.
Hari itu, jam itu, “we broke our relationship with the Last Kiss”. Hingga jam tangan ku menunjukan pukul 6, dan hp Luna berdering tanpa henti; terlihat tertulis panggilan dari “my mom” . beberapa kali dia minta pamit pulang, tapi aku tetap tidak mau melepaskan tangannya, tidak mau. Inginku selamanya Luna bersamaku, ingin ku memeluknya dan takkan ku lepaskan. Inginku, namun itu hanya inginku. Akhirnya Ibuku menghampiri kami dan memintaku melepaskan tangan Luna. “ Nak, ka Luna mau pulang, sudah hampir malam, nanti kalian akan bertemu lagi, yakin saja dengan Tuhan” . ibuku selalu bisa mengambil hati dan menenangkanku, ibuku faham betul apa yang aku rasakan sekarang. Akhirnya Luna pulang dan hubungan kita telah berakhir sejak itu.
Besok keberangkatanku menuju kota masa depanku, Jogja . dan aku masih sempatkan diri untuk bertemu Luna. Kali ini kita bertemu bukan di rumah Luna atau rumah nenek ku, tapi kami bertemu di rumah sahabatku ; Tera. Aku bingung harus berkata apa, aku takut kalau kata-kata ku malah samakin membuat luka di hati kami, kami bertemu tanpa saling bicara, ini awal mula kami menjadi batu, diam , hanya saling tatap. Dia memberiku sebuah mug yang berisikan hata-kata dan foto ku; foto dengan jas serta dasi, terlihat sangat rapi, juga foto Luna dengan senyum manis nya. Hanya sebentar kami berjumpa, dia bilang mau langsung pulang, dan aku pun bingung harus berbuat apa, aku bertambah bingung melihat tetesan airmata nya semakin deras, aku sudah tidak berani lagi untuk memegang tangan nya, aku takut , takut aku tak mampu melepaskan nya lagi, akhirnya ku biarkan dia berlalu hanya dengan menepuk pundaknya, semoga dia mengerti maksudku. “Luna , kamu harus tegar, kamu harus kuat”
Awal-awal masa kuliah ku, sesekali ku sempatkan berkomunikasi dengan ka Luna; sejak itu ku putuskan untuk kembali memanggilnya kaka. Dia terdengar masih berapi-api menanyakan bagaimana keadaan ku dan bagaimana kuliahku. Lama kelamaan komunikasi ini memudar, hingga hilang sama sekali. Ku dengar dari sahabatku Tera dia bertemu Luna sedang bersama laki-laki di salah satu mall yang ada di Banjarmasin. Mungkin itu pacarnya , pikirku. Dan ini adalah keputusan yang dia ambil, dan aku , sekali lagi harus menerima konsekuensinya.
Aku mulai sangat sibuk dengan dunia baruku, kuliah dan teman-teman baru, semua terasa menarik hingga aku bisa untuk tidak terpikirkan tentang Luna.
Saudara kembarku “Rian”, dia kuliah di kampus yang sama dengan Luna, dia sering bercerita padaku bagaimana Luna sekarang, dan mereka terlihat akrab, sering kumpul dengan teman-temannya, juga keperpustakaan bersama, hingga mengantar Luna pulang kerumah orang tuanya. Tapi Luna pernah mengatakan pada Rian, apapun yang pernah terjadi antara dia dan aku, kami tetap bersaudara, dan dia tetap mengganggap kami adik nya, adik kesayangannya. Tidak lebih.
Suatu ketika aku mengikuti MTQ Mahasiswa tingkat Nasional yang di adakan di Sulawesi, aku bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari Universitas Luna kuliah, aku membuka percakapan dengan orang itu, namanya Fiqri, aku bertanya apakah dia mengenal ka Luna, syukurnya dia kenal baik. Ka Luna art division of ESA katanya, aku menitipkan salam untuk nya, namun respon nya negative. Ka Luna seperti tidak peduli lagi dengan ku. Hingga suatu hari aku pulang ke kotaku, aku ikut jalan-jalan ke kampus saudara kembarku, aku duduk berlama-lama di depan aula hanya untuk menunggu jikalau saja ka Luna lewat, dan benar saja ka Luna terlihat keluar dari lorong gedung kampus dan lewat di depan aula di mana aku berdiri, kemeja biru tosca, jeans hitam dan kerudung biru tosca pula, dia terlihat sangat tergesa-gesa setengah berlari, ketika beberapa kali ku panggil dia hanya menatapku sinis dan berkata “ ada apa , hah ?” . kemudian langsung berlalu. Dia benar-benar sudah tidak mengenaliku, mungkin dia mengira aku ada lah kembaranku, dia pasti sudah melupakan ku, begitu pikirku. Aku pulang dengan sedikit kecewa, namun juga lega karena sekarang ka Luna sudah melupakan ku.
3 tahun berlalu sejak semua kejadian itu, aku telah melupakan sosok ka Luna; karena aku terlalu sibuk dengan duniaku juga kekasih ku, Rhey. Perempuan yang sangat mengerti aku, dan satu hal yang paling menarik dari Rhey, dia smart, pintar, genius, itu yang aku suka dari sosok nya, dia tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu ribet, simple. Dan aku sangat suka. Banyak yang bilang kalau Rhey manis, apalagi di tambah kacamata dan lesung pipinya, tidak pernah bosan mata ini memandangnya, pun sangat sabar menemaniku di kala suka, duka . berpetualang hingga ketika aku terkapar di Rumah sakit jauh dari orang tua, Rhey lah yang setia menemaniku. Dia wanita ku. Rhey.
Rabu, di pasar dekat rumah nenek, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Luna, dia sama sekali tidak menyapaku dan kembaranku, dia berlalu begitu saja di hadapan kami, dan kami pun berlalu, namun setelah 5 langkah kakiku terhenti, dan langsung berbalik menuju ka Luna, ku tepuk punggung nya dan dia langsung berbalik, aku tahu dia sebenarnya sudah tahu itu aku, aku yang akan menghentikan langkahnya. Dia bilang kita sudah sangat lama sekali tidak bersua berbagi cerita, hingga tiba –tiba saja hp nya berdering, panggilan dari Mosses, dan kami sepakat untuk berkumpul di rumah Mosses setelah makan siang.
Pertanyaan pertama ku membuka obrolan kami di rumah Mosses, “mengapa memutuskan untuk menikah? Apa kelebihan calon suamimu sehingga kamu yakin untuk menikah dengan nya? Apakah kamu mencintainya?” . terkesan begitu egois namun ka luna menjawab dengan santai nya, “dia lah jodoh yang di kirim Tuhan buat aku” . begitu saja tanpa alasaan yang panjang lebar, dia malah menanyakan bagaimana hubungan ku dengan Rhey, bagaimana kuliah ku, ipk ku, prestasi ku. Dan lagi , aku merasa dia membangkitkan semangat ku untuk semakin belajar dan berprestasi, dia sosok kaka yang baik bagiku.
4 hari setelah itu, Minggu; adalah hari pernikahan ka Luna; sebenarnya dia mengantarkan undangan itu sendiri ke rumah nenek untuk kami sekeluarga, namun aku tidak bisa menghadirinya, bukan karena tak sanggup melihat dia bersanding dengan orang lain, namun tiket keberangkatan ku jum’at. Dan seluruh keluarga juga menghadiri acara pernikahan di kotaku, kecuali tante ku yang menyempatkan hadir di perikahan Luna sebelum pergi ke kotaku.
Sejak itu aku hanya bisa mendoakan semoga ka Luna selalu bahagia dengan jalan yang di pilihnya, selalu bahagia.
Setelah pernikahan ka Luna, kita tidak pernah berjumpa lagi, pun saling berkomunikasi. Kami menjalani kehidupan masing-masing tanpa tahu bagaimana kami yang sekarang.
Ied fitri tahun itu aku pulang ke ketempat nenek seperti biasa, teman-teman SD berkumpul di rumah Diya, bersama teman – teman masa kecil yang tidak pernah absent untuk meluangkan waktu walau hanya untuk saling bertukar cerita, pengalaman, dan candaan kami masing-masing. Mosess yang sekarang menjadi seorang Chef di salah satu hotel ternama di Bali, Tiefa yang menjadi ibu Bidan cantik juga masih melanjutkan study nya di salah satu universitas swasta di Banjarmasin. Ana yang keibuan; mungkin karena sudah resmi bergaul dengan anak-anak SD, dia mengajar di SD Negri ternama juga di Banjarmasin. Tera ; hingga sekarang masih berstatus mahasiswa di kampus Luna, kalau di Tanya kapan lulus dia selalu bilang “ah biasa saja kami ini jadi mahasiswa lama, dosennya ribet guys”. Selalu begitu alasan nya. Anto yang melanjutkan kuliah S1 dan Nurse nya serta kembaran ku yang sekarang sudah menjadi orang kantoran.
Di tengah candaan kami sambil menikmati suguhan ala-ala Hari raya ; tiba- tiba saja semua mata memandang kearah pintu, terlihat di sana Vie dan juga ka Luna, kali ini dia membawa bayi kecil yang sangat lucu, mungkin itu anaknya pikirku. Aku sama sekali tidak berani menyapa, bibirku seakan terkunci, pun tubuhku. Hanya diam, melihat dia berlalu menuju ruang tengah ; dimana ada Fatma disana, ya mereka berkumpul dengan Fatma, kakak Diya yang satu angkatan dengan Luna, sesekali ku curi pandang kea rah mereka, tapi tak sedikitpun ku lihat ka luna menoleh ke arah kami, mereka terdengar sangat bersemangat menceritakan kehidupan pernikahan mereka masing-masing. Itu yang ku dengar.
Setelah berselang lama Vie dan ka Luna terlihat pamit untuk pulang, dan lagi, aku hanya mematung diam melihatnya berlalu begitu saja, hingga motor yang mereka kendarai tidak bisa menyala dengan Normal, kali ini ku biarkan kembaran ku ; Rian, yang menolongnya, selalu Rian yang menolong ka Luna, bukan aku.
Kembali lagi dengan kesibukan dan kegiatan ku, kuliah, kuliah dan finally aku menerima gelar sarjana ku di tahun ini. Dan aku memutuskan untuk belum pulang ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan studi ku kembali di sini, kota yang sama, kampus yang sama. Yogja .
Setelah satu tahun berlalu, kembali berkumpul bersama teman-teman kecil di kampung halaman menjadi salah satu agenda wajib bagiku. Rumah Vie; kembali lagi. Mosses terlihat datang lebih awal, di susul aku, Rian dan Tera. Tiefa datang bersama Ana. Ku lihat ada anak kecil lucu, tapi tak tahu siapa, terbesit bayangan ka Luna, setelah sekian lama catatan tentang dia sudah hilang dari memoryku. Ya benar saja ku lihat ka Luna dan ka Fatma berbincang di ruang tengah, aku membisu hanya membisu seperti biasa.
“hai semua” , ka Luna menyapa kami semua di ruang tamu, satu persatu kami bersalaman dengan nya, pun juga aku.
Semua bercerita, bercanda, berbagi pengalaman dengan kehidupan masing-masing selama tidak saling bertemu setahun berselang, aku sibuk dengan anak kecil lucu yang ku coba mengajak nya bermain, Dia Noah; anak ka Luna.
“Rian, gimana kuliah S2 nya, kalau aku mau kuliah lagi masih bisa g’ ya ?”
Setengah kaget dengan pertanyaan ka Luna untuk ku.
“tentu lah boleh, siapa yang melarang, yang satu local dengan ku bukan yang muda saja, ada yang sudah menjadi Pegawai , sudah bapak ibu , its ok, tapi buat apa lagi kaka kuliah” jawabku.
Dia mulai menjelaskan tujuan nya untuk kuliah lagi, aku hanya manggut-manggut dan menjawab oohhh. Terasa kelu untuk melanjutkan perbincangan itu. Aku hanya memilih diam dan sesekali memandang kearah nya yang sangat ceria tanpa beban, pun ketika pandangan kami bertemu dia hanya diam seribu tanda Tanya.
Kali itu kami merencanakan untuk menghabiskan satu hari bersama, seperti tahun-tahun sebelumnya, hingga hari yang sudah di tentukan pun tiba, Rian dan aku berangkat dari kotaku menuju Banjarmasin. Kali ini Vie ikut bersama kami, Mosses, Ana, Tera dan Tiefa . kami semua menuju destinasi pertama kami, karoke at AJ Plaza. 5 menit terakhir setelah berjam-jam kami habiskan terlihat Vie menerima telpon dan berjalan keluar room. Ketika kami sudah selesai masuklah ka Luna dan Noah. Deg… perasaan itu datang lagi. Beku. Ka luna hanya ikut berfoto bersama kami dan kita semua meninggalkan tempat tersebut melanjutkan destinasi, tempat makan. Setelah keliling-keliling kita berhenti di salah satu rumah makan ternama di Banjarmasin. Hanya makan sedikit candaan dan foto. Kita menuju rumah Tiefa , acara selanjutnya adalah “ngerujak party”. Tiba di sana aku langsung mencari posisi nyaman, kasur di depan TV. Aku hanya sendiri ketika yang lain sibuk bercanda gurau, aku berfikir mengapa aku tidak bisa bercanda seperti yang lain, mengapa aku terlalu kaku untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar kaka sekarang? Mengapa lidah ku terlalu kelu untuk hanya sekedar berbagi cerita seperti dulu saat kita masih bersama, aku sedikit iri dengan Mosess yang bisa bercanda lepas dengan ka Luna, mereka bercanda tanpa beban. Dan aku hanya membeku, hanya membeku, satu senyuman dengan tatapan aku baik-baik saja.
Today aku mengenakan jas hitam rapi, terselip bunga kecil di saku kiri depan. Ku pandang sekeliling, penuh dengan tamu undangan dan di samping ku seorang wanita yang sudah dengan sah ku terima sebagai pasangan hidupku. wanita yang bisa membuatku lupa akan semua masa laluku, wanita yang aku impikan, pintar, cerdas, berpendidikan tinggi, pintar main gitar dan bernyanyi, manis stentunya dengan kacamata yang di pakainya. Wanita itu “Lia”. Dia senyum simpul kepadaku. Hari ini adalah hari pernikahan ku. Hari paling bahagia bagiku.
Satu persatu tamu undangan bersalaman dan berfoto silih berganti, ku lihat ucapan selamat tersusun rapi di halaman depan, juga alunan music yang mengalun mencengangkanku. Seorang wanita cantik dengan hijab merah berdiri di sana menyanyikan lagu “ like im gonna lose you” entah kekuatan apa yang membawa aku berjalan menuju panggung tempat dia bernyanyi, ku ambil mic dan ku teruskan lirik lagu nya. Ku lihat butiran airmatanya mengalir di sana, juga airmata ku. Hingga lagu selesai airmata kami tak kunjung selesai, tanpa sepatah kata dia hanay tersenyum dalam kubangan airmata. Da berlalu dengan ucapan selamat, semoga bahagia selalu, bahagiakan pasangan hidupmu, dengan senyuman yang tak pernah bisa kulupakan, dengan airmata yang sangat deras, aku, dia, kami saling tatap seakan berbicara satu sama lain bahwa kami akan baik-baik saja dengan kehidupan masing-masing. Satu hal yang aku tidak pernah mengerti, lidahku selalu kelu, membeku, jantung beredebar kencang, keringat dingin di telapak tangan , itu semua hanya terjadi ketika aku bertemu dia , ya dia , KA LUNA.

0 komentar:
Posting Komentar